Datuk Ibrahim Tan Malaka, Sang Revolusioner (Merdeka 100%)

Spread the love
155 Views

Tan Malaka atau Ibrahim gelar Datuk Sutan Malaka lahir di Nagari Pandam Gadang, Gunuang Omeh, Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, 2 Juni 1897. Tan Malaka orang pertama yang mencetuskan konsep tentang “Negara Indonesia” dalam bukunya yang berjudul Naar de Republiek Indonesia (1925). Buku inilah yang menginspirasi Soekarno, Hatta, dan Sjahrir, untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sosok yang memilih “kesunyian dan kesendirian” dalam berjuang ini, dari mulai menulis buku, membentuk kesatuan massa, berbicara dalam kongres internasional, ikut bertempur di lapangan melawan Belanda secara langsung, sampai akhirnya harus keluar-masuk penjara berkali-kali, diburu oleh interpol, dan kejar-kejaran sama polisi internasional sebab keberadaannya dianggap mengancam pemerintah Belanda. Dan tragisnya, Ya, beliau ditembak mati oleh tentara republik yang didirikannya sendiri (Tentara Indonesia) di Kediri 1949.

Banyak karya karyanya yang menyentuh kalbu saya (penulis), salah satu karya besarnya yakni MADILOG yang mencerminkan gambaran kegelisahan Tan Malaka terhadap bangsanya, Madilog menawarkan konsep gagasan jauh lebih maju guna merekonstruksi pemikiran lama dan masih cukup relevan, meski ditulis di tahun 1943.

MADILOG, ialah paduan dari permulaan suku kata : (MA)-TTER, (DI)-ALECTICA dan (LOG)-ICA “Mater’’ saya terjemahkan dengan “benda’’,dialektika dengan pertentangan atau pergerakan dan logika dengan undang berpikir,” tulis Tan Malaka dalam buku Madilog.

Dia mengajak kita didalam menyelesaikan masalah adalah dengan logika, yang mengundang kita berpikir dan diuji dengan pertentangan. Termasuk di dalam ber-Tuhan dan beragama, tentu menurut saya pribadi, bagaimana kita bisa mengenal Tuhan dan kemudian beragama, kalau kita tidak menggunakan logika yang mengharuskan kita berpikir dan diuji dengan pertentangan. Maka yang terjadi adalah kita ber-Tuhan dan beragama hanya karena keturunan.

Bahkan Rasul Muhammad SAW pun (menurut agama saya) menyuruh kita berpikir tehadap alam dan semesta ini, pasti akan ketemu siapakah Tuhanmu.

“Berpikirlah kalian tentang ciptaan Allah dan jangan sekali-kali berpikir tentang Allah, sebab memikirkan tentang Ar Rabb (Allah) akan menggoreskan keraguan dalam hati“.
Ada yang menarik dalam madilog ini, yakni :

  1. Bukti
  2. Law, Undang Undang
  3. CARA

Ada bukti, ada aturannya dan kita harus uji lagi,. dengan cara.

Buruk dan baik itu, ialah buruk dan baik buat masyarakat itu sendiri. Asalnya masyarakat itu sendiri, dari pergaulan antara manusia dan manusia dalam masyarakat itu sendiri. Perbuatan yang baik mendatangkan akibat yang baik. Perbuatan yang buruk menimbulkan akibat yang buruk pula buat masyarakat itu sendiri. Contoh ini boleh diambil dari segala bangsa dan sejarahnya segala bangsa, dan sejarahnya segala bangsa itu dibumi ini. Hukum buruk dan baik, boleh dipetik dan dibentuk dari sejarahnya segala bangsa dan Negara yang dulu dan sekarang. Dengan begitu manusia dan moralnya sudah berdasarkan Bukti, sudah nyata dan peralaman, dan bisa berdiri atas kakinya sendiri. dan kakinya itu berada dalam masyarakat Manusia serta moralnya. (madilog)

Saya akan mencoba menyimpulkan, dalam kapasitas terbatas saya.
Pertama: Revolusi bisa dicapai dengan otak.

Manusia memiliki otak sebagai alat untuk mengontrol segala sesuatu mengenai tindakan yang akan dilakukan.

Kedua: Mulut.

Revolusi dapat dicapai dengan mulut. Ketika manusia memandang setiap hal materi, matter (benda), sebuah kejadian dan peristiwa tentu akan bereaksi terhadap anggota tubuh lainnya. Tentu berbagai tanggapan serta argumentasi mengenai suatu permasalahan akan muncul dalam pikiran seseorang. Pada saat itu juga inisiatif untuk menyampaikan pendapat dan pesan seseorang dapat disampaikan lewat bicara, melalui mulut. Melalui mulut jalan revolusi dapat tercipta berdasarkan pesan-pesan yang terkandung dalam setiap pembicaraan sehingga dapat menciptakan gagasan baru yang efektif, variatif, dan selektif menjadi hal berkualitas guna meningkatkan intelektualitas berpikir manusia.

Ketiga: Pena.
Pada saat yang sama segenap sejarah dapat diketahui seseorang lewat sebuah tulisan. Tanpa tulisan, sangat tidak mungkin catatan-catatan pendahulu dipahami dan dijadikan landasan berpikir serta bergerak para pemuda.

Hal ini pas sesuai pesan Allah SWT bahwa Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum yang berada dalam kenikmatan dan kesejahteraan, sehingga mereka mengubahnya sendiri. Juga tidak mengubah suatu kaum yang hina dan rendah, kecuali mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Yaitu dengan menjalankan sebab-sebab yang dapat mengantarnya kepada kemulian dan kejayaan.

Merdeka 100% tapi Tidak Mati.

Sumber :

Madilog (1943) Tan Malaka

Wikipedia

Sumber sumber lainnya

*Fadlun Abid

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *