Historiografi Tradisional dalam Masyarakat Lampung

Spread the love
675 Views

https://kianamborohistoryummetro.wordpress.com

Sebagaimana kita ketahui bahwa ketika kita berbicara sejarah, maka secara langsung kita akan berbicara mengenai manusia. Sejarah dan manusia merupakan satu kesatuan  yang tak terpisahkan. Sejarah lahir bersamaan dengan munculnya manusia yang selalu meninggalkan jejak dalam setiap perjalanan kehidupannya. Oleh karena itu hanya manusia yang memiliki sejarah, dan hanya manusia yang dituliskan dalam sejarah. selama ribuan tahun yang lalu lebah atau burung membangun sarangnya dengan cara yang sama. Oleh karena itu sejarawan tak pernah melakukan dan menuliskan tentang sejarah lebah atau burung dalam membuat sarangnya. Akan tetapi manusia tidak selalu memiliki cara yang sama dalam membangun rumahnya. Kita dapat mengamati perkembangan serta perubahan-perubahan yang mencolok tentang bagaimana manusia hidup. Manusia mampu bersikap otonom terhadap dunia sekitarnya dalam situasi dimana ia berada. Dan sikap serta kebebasan inilah yang menyebabkan manusia sanggup menghasilkan sesuatu yang baru, yang kemudian menjadi syarat adanya sejarah (Daliman, 2012 :5-7).

Periode sejarah dimulai ketika manusia telah meninggalkan jejaknya berupa tulisan. Akan tetapi bukan berarti bahwa sebelum manusia mengenal tulisan tidak terdapat masa lalu manusia. Meskipun masa sejarah manusia dimulai ketika adanya tulisan, akan tetapi obyek utama sejarah adalah manusia, dimana manusia mulai ada disitulah sejarah bermula, ia tetap meninggalkan jejak-jejaknya dalam bentuk lain (bukan tulisan) yang dari jejak itu dapat kita rekonstruksi kembali tentang bagaimana pengalaman paling awal manusia dan bagaimana asal-usulnya.

Tentang asal-usul penduduk Lampung tentulah erat hubungannya dengan asal-usul istilah Lampung itu sendiri. Walaupun nama Lampung itu sendiri mungkin sekali baru dipakai lebih kemudian daripada ketika mereka memasuki daaerah Lampung itu. Menurut teori yang sudah umum, bahwa penduduk Indonesia itu berasal dari Yunan dan kemudian menyebar ke seluruh Nusantara, yang kemudian karena keadaan alam mereka terbagi atas beberapa bagian yang berkembang menurut beberapa kondisi daerah masing-masing (Yamin, 1951:17).

Sampai dengan saat ini beberapa teori dan legenda yang erat kaitannya dengan asal-usul penduduk maupun asal kata ‘Lampung’ itu sendiri masih dalam kajian, beberapa teori dan legenda mengenai asal-usul kata yang kemudian juga menandai asal mula penduduk Lampung adalah sebagai berikut :

aksara-kaganga-pada-naskah-tanjung-tanah

a.        Catatan kronik musafir Cina.

Dari catatan musafir Cina yang pernah mengunjungi Nusantara pada abad ke-7 yaitu I Tsing, maka selain Kin li-pi-ce (mungkin sebetulnya adalah Ce-li-Fo-ce), Mo-ho-sin, juga disebutkan To-lang, Po-hwang sebenarnya merupakan suatu kata yang dapat ditranskripsikan ke dalam kata Tulang Bawang, yamg daerahnya dialiri sungai Tulang Bawang. Letak Tulang bawang sekarang berada di daerah Menggala. Akan tetapi hal masih menjadi tanda tanya bagi para ahli, dimana letak sebenarnya Tulang Bawang itu, sebab para ahli belum menemukan bukti yang kuat dan belum sependapat mengenai hal tersebut.

Sedangkan beberapa para ahli diantaranya N.J. Krom menyatakan bahwa kata Lampung itu sendiri berasal dari bahasa Cina Hokian yang berarti “orang atas”. Ini kemudian diartikan orang-orang yang tinggal di atas (lereng pegunungan, tempat yang tinggi). Dengan demikian penyebutan I Tsing “To-lang Po-hwang” memiliki kesamaan makna dengan kata “anjak lambung” yang berarti orang-orang atas (Gunung Pesagi).

Suatu teori yang menarik adalah dikemukakan oleh Hilman Hadikesuma (dalam Depdikbud, 1977:10) yang mendasarkan pada pendapat Yamin bahwa kata To-lang Po-hwang dapat dieja atas kata To yang berarti “orang” dalam bahasa Toraja, sedang lang-Po-hwang merupakan ejaan Lampung, jadi secara lengkap berarti orang Lampung

b.        Teori Dr. R. Broesma (1916) yang berasal dari cerita Sejarah Majapahit di Teluk Betung.

Teori lain berasal dari legenda. Dalam buku karangan Dr. R. Broesma “De Lampongsche Districten” (1916) ditulis bahwa Residen Lampung yang pertama J.A. Du Bois (1829-1834) pernah membaca buku yang berjudul “Sejarah Majapahit”, milik salah sorang warga di Teluk Betung yang disimpannya sebagai azimat. Di dalam buku tersebut diterangkan bahwa Tuhan menurunkan orang pertama ke bumi bernama Sang Dewa Sanembahan dan Widodari Sinuhun. Mereka itulah yang menurunkan si Jawa Ratu Majapahit, si Pasundan Ratu Pajajaran, dan si Lampung Ratu Balau. Kata Lampung berarti op het water drijven (terapung di atas air). Sampai sekarang ini dikalangan penduduk Lampung sub suku Pubian masih percaya mitos bahwa nenek moyang mereka adalah Poyang si Lampung.

c.         Teori nenek moyang dari Tapanuli.

Teori ini menjelaskan mengenai asal-usul orang Lampung adalah dari legenda dari daerah Tapanuli. Menurut cerita ini pada masa yang lama telah silam meletuslah sebuah gunung berapi besar yang menyebabkan bencana. Ketika gunung itu meletus, ada empat orang bersaudara yang berusaha menyelamatkan diri, dan meninggalkan Tapanuli. Salah satu dari keempat saudara itu bernama Ompung Silamponga, terdampar di Krui, kemudian naik ke dataran tinggi yang sekarang disebut dataran tinggi Belalau atau Skala Berak. Dari situ terlihatlah daerah yang luas dan menawan hati, maka lalu dengan perasaan kagum diteriakkanlah kata Lappung, yang dalam bahasa Tapanuli berarti luas. Dari kata ini timbullah kata Lampung seperti sekarang ini. Sampai saat ini di kalangan suku Lampung asli, baik di daerah Belalau, Menggala maupun Abung, kata Lampung masih diucapkan Lappung.

Ada juga sebagian yang berpendapat bahwa nama Lampung itu justru berasal dari nama Ompung Silamponga tersebut. Teori ini diperkuat pula dengan adanya persamaan antara huruf Lampung dengan huruf Batak. Meskipun kesamaan ini dapat diartikan bukan saling mempengaruhi, tetapi karena berasal dari sumber aksara dan bahasa yang sama kemudian berkembang di wilayah masing-masing. Bahkan ada yang menerangkan bahwa suku yang memuat cerita tersebut masih disimpan oleh penduduk (Punyimbang Adat) dari kampung Rajabasa, Lampung Selatan.

d.        Asal-usul masyarakat Lampung menurut Kitab Kuntara Raja Niti.

Salah satu teori yang menarik juga untuk dikemukakan adalah tulisan Hilman Hadikesuma dalam risalah triwulan Bunga Rampai Adat Budaya, No. 2 tahun ke II terbitan Fakultas Hukum Universitas Lampung berjudul “Persekutuan Hukum Adat Abung (Dalam Perkembangannya Dari Masa ke Masa)”. Dalam uraian tersebut dikemukakan mengenai asal-usul penduduk Lampung. Menurut cerita rakyat bahwa penduduk Lampung itu berasal dari daerah Skala Berak, yang merupakan perkampungan orang Lampung pertama-tama. Kemashuran Skala Berak ini dapat dirunut melalui penuturan lisan turun-temurun dalam wewarah/ wawarahan, tambo, dan Dalung. William Marsden dalam tulisannya History of Sumatra mengungkapkan bahwa “apabila kita menanyakan kepada masyarakat Lampung tentang darimana mereka berasal maka mereka akan menjawab dari bukit dan akan menunjuk ke suatu tempat dekat danau besar.”

Dari Skala Berak ini kemudian lahir sembilan keturunan (kebuayan) besar yang berkembang menjadi puluhan marga. Penduduknya disebut orang Tumi (Buay Tumi) yang dipimpin oleh seorang wanita bernama Ratu Sekarnong. Kepercayaan yang dianut merupakan dinamisme yang dipengaruhi juga oleh ajaran Hindu Bairawa, yaitu menyembah sebatang pohon yang dianggap sakti.

Terkait dengan Pagarruyung, dari catatan cerita tutur saja ada suatu realitas yang sering dilupakan bahwa orang Lampung juga memiliki garis keturunan dari Pagarruyung. Ada dua rekonstruksi mengenai nenek moyang orang Lampung sejak kedatangan empat Umpu ke Skala Berak. Pertama umpu-umpu ini mengalahkan suku bangsa Tumi yang telah mendiami Skala Berak. Bila tesis ini benar maka umpu yang datang memimpin wilayah dan menurunkan orang Lampung.

Kedua umpu yang datang hanya singgah dan membawa pengaruh dari Pagarruyung. Selain bersumber dari tambo, alasan lain yang memperkuat kemungkinan alasan kedua ini adalah ketika itu Pagarruyung telah memeluk Islam. Buay Tumi itu kemudian mendapat pengaruh dari empat orang pembawa ajaran Islam dari Pagarruyung. Mereka adalah Umpu Nyerupa, Umpu Bejalan di Way, Umpu Pernong, dan Umpu Belunguh. Mereka merupakan cikal bakal Paksi Pak, sebagaimana yang diungkapkan dalam buku naskah kuno yang bernama Kuntara Raja Niti (Kitab Hukum Adat). Tetapi dalam versi buku Kuntara Raja Niti nama-nama mereka adalah Inder Gajah, Pak Lang, Sikin, Belunguh dan Indarwati. Menurut cerita rakyat Belalau juga disebut bahwa keempat umpu adalah pembawa agama Islam dan bersahabat dengan Puteri Bulan.

Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, yaitu sebuah kumpulan naskah kuno Lampung yang hingga sekarang masih dapat diketemukan dan dibaca baik dalam bentuk aksara “Kaganga” maupun dalam aksara latin yaitu sebagai berikut :

“siji turunan Batin tilu suku tuha lagi lawek djak Pagarruyung Menangkabau pina turun satu putri kajangan, dikawinkan jama Kun Tunggal, ja ngada Ruh Tunggal ja ngakon ja ngadakan umpu sai tungau umpu, umpu sai tungau ngadakan umpu serunting, umpu serunting pendah disekala berak ja budiri ratu pumanggilan, Ratu Pumanggilan (umpu serunting nganak lima muari : 1. Sai Tuha Indor Gadjah turun abung siwa mega, 2. Si Belunguh turunan peminggir, 3. Si Pa’lang nurunkan pubijan, 4. Si Padan ilang, 5. Si Sangkan wat di suka ham).”

0.11
0.12

Selanjutnya Hilman menjelaskan bahwa umpu-umpu ini hanya sebagian berasal dari Pagarruyung, yang sebagian lagi berasal dari Darmasraya. Sebelum memasuki Lampung mereka menetap di Rejang (Bengkulu). Beberapa ahli berpendapat bahwa keempat umpu itu adalah putera-putera raja Sriwijaya yang berhasil menyelamatkan diri ketika Sriwijaya diserang oleh musuh dari luar. Sebuah penelitian di Padang Panjang tahun 1938 menjelaskan adanya keterkaitan asal mula penduduk Lampung dengan Pagarruyung. Di dalam cerita rakyat Cindur Mato menyebutkan bahwa suatu ketika Pagarruyung diserang musuh dari India penduduk setempat mengalami kekalahan. Mereka kemudian melarikan diri, ada yang melalui sungai Rokan, sebagian lagi melalui laut dan terdampar di hulu sungai Ketaun di Bengkulu dan menurunkan suku Rejang, yang lari ke utara menurunkan suku Batak, yang terdampar di Gowa menurunkan suku Bugis. Sedangkan yang terdampar di Krui lalu menyebar ke dataran tinggi Skala Berak menurunkan suku Lampung.

Dari uraian diatas pada dasarnya jurai ulun Lampung atau orang Lampung adalah berasal dari Skala Berak. Namun dalam perkembangannya secara umum masyarakat Lampung kemudian terbagi menjadi dua yaitu masyarakat adat Lampung Saibatin dan masyarakat adat Lampung Pepadun. Masyarakat Adat Lampung Saibatin mendiami wilayah adat: Labuhan Maringgai, Pugung, Jabung, Way Jepara, Kalianda, Raja Basa, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semaka, Suoh, Sekincau, Batu Brak, Belalau, Liwa, Pesisir Krui, Ranau, Martapura, Muara Dua, Kayu Agung, empat kota ini ada di Propinsi Sumatera Selatan, Cikoneng di Pantai Banten dan bahkan Merpas di Selatan Bengkulu. Masyarakat Adat Saibatin seringkali juga dinamakan Lampung Pesisir karena sebagian besar berdomisili di sepanjang pantai timur, selatan dan barat lampung, masing masing terdiri dari:

  • Paksi Pak Sekala Brak (Lampung Barat)
  • Bandar Enom Semaka (Tanggamus)
  • Marga Lima Way Lima (Pesawaran)
  • Keratuan Melinting (Lampung Timur)
  • Keratuan Darah Putih (Lampung Selatan)
  • Keratuan Komering (Provinsi Sumatera Selatan)
  • Cikoneng Pak Pekon (Provinsi Banten)

Masyarakat beradat Pepadun/Pedalaman terdiri dari:

  • Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.
  • Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.
  • Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.
  • Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-Way Kanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Blambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui

Falsafah Hidup Ulun Lampung termaktub dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu:

  • Piil-Pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri)
  • Juluk-Adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya)
  • Nemui-Nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu)
  • Nengah-Nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis)
  • Sakai-Sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya)

Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Provinsi Lampung. Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):

 Tandani ulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia heno sehitung, wat liom ghega dighi
Juluk-adok gham pegung, nemui-nyimah muaghi
Nengah-nyampugh mak ngungkung, sakai-Sambaian gawi.

Dengan demikian diperkirakan bahwa nenek moyang orang Lampung itu hidup di Bukit Barisan pada abad ke-13 atau setidak-tidaknya sezaman dengan kerajaan Paguruyung Minangkabau sekitar abad ke-14 M. Di dalam kitab Kuntara Raja Niti, yaitu kitab adat istiadat orang Lampung yang hingg sekarang masih dapat ditemukan dan dibaca, baik dalam aksara asli maupun yang sudah ditulis dalam aksara latin, walaupun isinya sudah banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang masuk dari Banten.

oleh Kian Amboro

*Mohon dikoreksi jika terdapat kekeliruan

DAFTAR PUSTAKA

Daliman. 2012. Manusia dan Sejarah. Yogyakarta : Ombak.

Marsden, William. 1811. (Edisi Ketiga). Sejarah Sumatra. Terjemahan oleh Tim Komunitas Bambu. 2013. Jakarta : Komunitas Bambu.

Muhammad Yamin. 1951. 6000 Tahun Sang Merah Putih. Jakarta : Siguntang.

Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. 1981. Sejarah Daerah Lampung. Jakarta : Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya Departemen Pendidikan dan Kebudaayaan.

Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah. 1983. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sri Maryati. 2006. Selayang Pandang Sang Bumi Ruwa Jurai ; Nuansa Arkeologi. Bandar Lampung : Dinas Pendidikan Provinsi Lampung.

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *