Catatan Kecil Tentang “One Man One Vote” (Demokrasi Rasa Oligarki)

Spread the love
236 Views


Kejayaan, Penggawa V Tengah, Karya Penggawa

Pemilu yang baru lalu menelan biaya 25,59 Trilyun (kemenkeu), “Berdasarkan data, alokasi anggaran untuk persiapan awal di tahun 2017 sekitar Rp 465,71 miliar. Kemudian pada 2018 (alokasi) mencapai Rp 9,33 triliun. Selanjutnya di 2019 ini, kita sudah menganggarkan sampai Rp15,79 triliun. Jadi totalnya dalam 3 tahun itu kita menyiapkan anggaran sebanyak Rp25,59 triliun,” yang dikutip dari laman kemenkeu.go.id.

Sangat fantastis….untuk sebuah hasil yang biasa saja….dan tanpa arti apapun untuk rakjat.

2020 akan ada lagi Pilkada Langsung,….9 PilGub, 224 PilBup, 37 PilWalkot, tentu ini juga gak kalo puluhan ribu rupiah anggarannya, pasti milyaran juga…..

Apalah mau dikata itu khan perintah UUD hasil amandemen dan demokrasi yang telah disepakati….

Demokrasi yang kini dikenal dan diselenggarakan dengan metode one man, one vote adalah demokrasi yang dibangun oleh Jean-Jacques Rousseau (1712-1778), yang berkontribusi melahirkan tatanan demokrasi melalui konstruksi kontrak sosial, yang melahirkan kekuasaan tertinggi yang dimiliki oleh masyarakat. Masyarakat (bukan orang per orang) mempunyai hak untuk mengganti penguasa jika dalam menjalankan kekuasaannya tidak seperti yang dikehendaki oleh rakyat. Revolusi Perancis pada 14 Juli 1789 merupakan salah satu penanda kelahiran demokrasi yang berhasil menumbangkan pemerintahan absolut pada waktu itu.

Sistem ini (one man one vote) berpegang pada asas kesetaraan, bahwa setara semua, seluruh lapisan rakyat. Tapi ujungnya menimbulkan ketidakstabilan dan ketidakseimbangan.

Gagasan gagasan besar untuk membangun kota, kabupaten, provinsi bahkan negara pun tidak diperlukan lagi dalam sistem ini, Mereka cukup datang ke rakjat, cerita klise tentang kesejahteraan yang emang jadi tugas dan kewajiban mereka, sebagai pemimpin. Ujungnya terjadi transaksi, atau sekarang namanya’Politik Transaksional”, wani piro. Dan yang menang tetaplah pemilik modal. Ya…itulah yang dinamakan demokrasi rasa oligarki.

Pada abad 25 sm, seorang filsuf Yunani, Plato mengenalkan tentang Oligarki, yaitu bentuk pemerintahan yang dipegang oleh golongan hartawan,

Dan disini, di negeri ini, perlahan tapi pasti, demokrasi sedang dilumpuhkan dan oligarki dihidupkan. Bungkusnya demokrasi, isinya oligarki. Artinya, selama ini kita merasa membangun demokrasi, tapi ternyata menghasilkan oligarki.

Sebab, yang bisa mencalonkan diri untuk menjadi kepala daerah, wakil rakjat bahkan presiden pun hanyalah orang yang berduit, atau yang kaya-raya (atau dibeking para pemilik modal). Untuk dicalonkan saja harus punya duit. Di dunia politik, berlaku ungkapan “tak ada makan siang gratis”. Demikian juga menjalankan mesin tim sukses, tim survei, dan tim kampanye. Semuanya butuh duit, baik untuk politik uang maupun uang politik.

Sumber : berbagai sumber yang relevan, wikipedia, tempo.co, detik.com.

Tapi sudahlah …..tapi minimal hari itu rakjat merasakan banyaknya “sedekah” yang datang, ya sudahlah tetep simpan harapan itu meski sekecil apapun…
Merdeka 100%
Tapi Tidak mati

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *