Kuasa Hukum Korban : Menyampaikan Aspirasi Melalui Aksi Solidaritas Ikatan Perawat Indonesia Sah-sah saja, Tetapi Harus Sesuai pada Pokok Permasalahan dan Tidak Membangun Opini

Spread the love
283 Views

Meracara Lampung Utara – Menanggapai Aksi Solidaritas Ikatan Perawat Indonesia atas di tahannya perawat Jumraini yang di gelar di Kejaksaan Negeri Kotabumi dan Kantor Pemerintahan Derah (Pemda) Kabupaten Lampung Utara, Kamis 03 Oktober kemarin,

Samsi Eka Putra,S.H. kuasa hukum pihak korban Alek (25) meninggal dunia, dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Awalindo memberikan tanggapan bahwa menyampaikan aspirasi melalui aksi solidaritas itu sah-sah saja, tetapi harus sesuai pada pokok permasalahan dan tidak membangun opini terhadap pihak penegak hukum dan keluarga korban, Jum’at (04/04/2019).

“Kasus ini tidak sekonyong-konyong tiba-tiba dihukum, tidak tiba-tiba langsung diproses, karena ini melalui peroses Penyelidikan dan Sidik tentunya.

Sepanjang Penyelidikan dan Sidik ini sudah ada beberapa hal-hal yang disampaikan oleh pihak kepolisian, bahkan kami sendiri dari pihak kuasa hukum Korban sudah sempat mengirimkan surat somasi kepada pihak Jumraini dan kami juga sudah sempat koordinasi Kepala Dinas Kesehatan agar persoalan ini segera di selesaikan pada pihak keluarga (korban).

Seperti memberikan perhatian kepada pihak korban, karena korban ini merasa berduka atas meninggalnya korban ini. Yang mana tentunya ada penyebab yang meyakinkan pihak keluarga korban bahwa ada adanya penanganan kesehatan yang tidak tepat, tidak benar oleh Jumraini.

Namun Jumraini sendiri ngotot, ini yang menjadi persoalan, karena dia mau menyelesaikan masalah ini bukan dengan berbicara musyawarah tapi dia malah justru menyuruh orang lain yang kami duga preman untuk mengintimidasi pihak korban,” ungkap Samsi kuasa hukum Korban.

Samsi juga menambahkan bahwa tindakan yang mengarah kepada dugaan intimidasi bukan hanya terjadi pada keluarga korban tetapi terjadi juga padanya penasehat hukum korban yang di lakukan oleh orang-orang suruhan jumraini.

“Bukan hanya sebatas intimidasi terhadap pihak korban tapi kami selaku PH pun itu sempat di intervensi oleh orang-orang suruhan jumraini.ini yang harus dipahami oleh teman-teman,” tambahnya.

Di katakan Samsi, melihat kronologi kejadian, bahwa perawat Jumraini melakukan praktik medis di rumah yang di duga menyalahi aturan dan undang-undang, karena tidak mengantongi izin dan lain sebagainya, sehingga Jumraini di tahan setelah pihak kepolisian dan kejaksaan melalui peroses penelitian sesuai prosedur.

Melihat hal tersebut YLBH Awalindo menghimbau pihak Jumraini untuk melihat dari sisi kebenaran agar tidak terbangun opini-opini yang merugikan diri sendiri dan orang lain.sempat sebelumnya jumraini melakukan pra peradilan yang mana di tolak oleh pengadilan.

“Jumraini melakukan praperadilan beserta dasar hukumnya, tentunya praperadilan itu akan diterima oleh Pengadilan Negeri Kotabumi, tapi nyatanya ditolak. Artinya proses ini sudah dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan undang-undang, kapasitas dia sebagai perawat kesehatan yang tentunya ada tata cara yang diatur oleh undang-undang, tata cara dan syarat yang diatur oleh undang-undang ternyata tidak terpenuhi oleh Jumraini, seperti peralatannya tidak steril, tempatnya tidak memadai, keilmuannya pun sangat terbatas,” terang Samsi.

Samsi berharap pada pihak jumraini tidak serta-merta untuk menyalahkan penegak hukum.

“Itu kita ambil contoh sedikit saja jumraini ini mengatakan bahwasanya dia tidak buka praktek, tetapi Polisi melakukan penyelidikan ke rumahnya dan menemukan alat-alat praktek di rumahnya, dan kami sendiri sudah melakukan investigasi ke seputaran tempat tinggal Jumraini.

Banyak warga mengaku pernah berobat sama Jumraini, jadi artinya dia buka praktik. Jika ingin buka peraktik silah-silahkan saja tetapi lengkapi dulu segala sesuatunya sesuai aturan dan undang – undang. Tetapi jika belum mampu, di situkan ada Puskesmas, kan bisa di rujuk ke puskesmas atau kerumah sakit,” tambah samsi.

YLBH Awalindo juga mengajak semua pihak-pihak, jika ingin melihat masalah ini dari sisi kemanusiaan agar pula di lihat dari pihak korban yang meninggal dunia karena pihak korban berasal dari keluarga yang sangat tidak mampu atau miskin. selain dari pada itu Samsi juga mengatakan saat pelayanan terhadap korban, pada saat itu korban di layani di teras rumah yang di bantu oleh adik kandung korban, bukan di tempat yang layak.

Samsi Eka Putra,S.H.mengingatkan pada Netizen atas komentar – komentar di media sosial online atas beredarnya berita tersebut untuk tidak terpropokatif, memojokkan tanpa bukti yang cukup sehingga memunculkan opini pihak korbanlah yang salah, dan menimbulkan kerugian terhadap orang lain, karena hal tersebut mengarah kepada pelanggaran undang – undang ITE, “tutupnya”. (red)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *